Pengalaman 3 Tahun Menggunakan Yamaha XMAX

Thursday, September 09, 2021

Gak terasa sepeda motor pertama yang ku beli atas nama ku sendiri ini, dah aku pakai selama 3 tahun. Karena sebelumnya beli atau pakai sepeda motor atas nama kakak atau orang tuaku. Berarti bulan ini bakal bayar pajak motor untuk Yamaha XMAX rakitan tahun 2018 ini. Bayar pajaknya 600 ribuan rupiah di area plat AD. Jarak tempuhnya dah hampir 32.000 km selama 3 tahun terakhir, yang berarti rata-rata tiap tahun menempuh jarak sekitar 10 ribuan kilometer. Yamaha XMAX ini hampir tiap hari aku pakai untuk berangkat ke tempat kerja yang jaraknya tidak terlalu jauh dan muter-muter sesuai kebutuhan dan touring. Rute paling jauh yang aku tempuh dengan motor matic ini, baru dari Jogja ke Lombok dan dari Solo ke Bandar Lampung. Dan sejauh ini aku sangat puas dengan produk ini dengan segala kelebihan dan kekurangan yang bisa didapatkan dengan sepeda motor ini. Berikut beberapa poin pengalaman menggunakan Yamaha XMAX selama 3 tahun terakhir.


1. Fungsi Yamaha XMAX

Ya fungsi, betul kok, kamu gak salah baca. Salah satu alasan utama ku membeli Yamaha XMAX adalah karena fungsi. Fungsi untuk nyaman digunakan berkendara jarak dekat, menengah, maupun jarak jauh, karena aku memang senang riding dengan sepeda motor beberapa tahun terakhir. Fungsi supaya gak di bully karena biasa nya pakai motor yang terlihat kecil ketika aku naiki dengan tinggi badan ku yang 171 cm dan berat sekitar 83 kg, jadi butuh sepeda motor yang agak bongsor supaya terlihat seimbang katanya.  Fungsi bagasinya untuk bawa barang yang lebih banyak tanpa terlihat dari luar. Aku paling risih kalau musim hujan, helm sering kehujanan di parkiran outdoor. Bagasi XMAX yang cukup besar, sangat berfungsi untuk nyimpen helm. Lalu aku sering bawa baju ke laundry, beli makanan, cemilan, belanja bulanan, serta ngirim paketan jualan online, jadi dimasukin ke bagasi mengurangi komentar-komentar tetangga yang suka beropini rumput tetangganya terlihat lebih hijau, padahal rumputnya udah coklat kering kerontang. #eh



2. Penyesuaian Diri

Banyak penyesuaian yang aku lakukan pada diriku sendiri sejak menggunakan kendaraan ini. Yang pertama jadi sering pakai sepatu ketika riding agak jauh atau ke daerah kota yang sering macet, karena kaki agak jinjit ketika motor berhenti, jadi biar pijakan lebih mantap. Padahal sebelumnya aku lebih suka pakai sandal waktu riding. Yang kedua aku jadi lebih sabar dalam berkendara di kemacetan karena sadar ukuran motor cukup lebar, jadi klo selap-selip jadi lebih hati-hati dan sabar agar tidak membahayakan pengendara lain. Selanjutnya adalah jadi lebih perhatian pada setiap kendaraan yang aku naiki dan jadi lebih merasakan mana sepeda motor yang nyaman dan mana yang perlu perawatan terutama ketika sedang memakai sepada motor lain. 



Kemudian jadi suka ngebut dikit kalau riding malam hari di jalan sepi. Padahal tadinya di kecepatan konstan, karena dingin jadi males ngebut. Tapi windshield nya yang tinggi jadi bikin anginnya gak kena langsung ke arah dada. Kalau ke mall atau swalayan cari yang halaman parkir motornya cukup luas dan cari hari atau waktu biasanya mall gak terlalu penuh, biar cari parkir dan keluarnya lebih mudah. Experience tempat parkir yang paling nyaman sementara ini ada di lobby Empire XXI Jogja, karena waktu itu petugas parkirnya melarang aku parkir di parkiran motor, katanya ganggu keluar masuk motor kecil, jadi disuruh parkir di lobby pintu depan nya bareng moge moge yang sesungguhnya. Agak malu si, tapi ya lama-lama cuek aja. Tapi aku suka dengan sudut opini petugas parkirnya. hahaha




3. Perawatan Yamaha XMAX

Alhamdulillah selama tiga tahun ini, Si XMAX ini gak ada rewel atau masalah yang berarti kecuali yang memang saatnya ganti spare part. Yang namanya motor kita pakai, yang harus dirawat supaya tetap prima. Kondisi mesin dan part pokok secara umum aku jaga tetap standar. Aku cukup rajin manasin motor hampir tiap pagi, meski motor hari itu gak dipake. Servis dan ganti oli mesin setiap 2500 km – 3000 km biasanya tercapai di 3-4 bulan, ganti oli gear setiap 5000 an km. Ganti filter oli, filter CVT atas dan bawah seperlunya dan lihat kondisinya. Injection cleaning setiap 15 ribu kilometer , ganti oli radiator menjelang 20.000 km atau ketika sudah menipis, dan ganti part-part kecil consumable lain di bagian CVT yang memang habis masa pakainya. Oli masih pakai Yamalube Super Matic 2 botol, ada sisa dikit tiap habis ganti oli, dikumpulin 2 kali ganti oli, dapet 1 botol hampir penuh. Lumayan buat ngirit. Hahaha. 



Biayanya menurutku masih cukup wajar untuk motor 250cc. Apalagi waktu setahun pertama pakai XMAX, gak ada perawatan khusus yang diperlukan. Masih ada jatah servis gratis beberapa kali dan paling cuma ganti filter cvt atas. Biaya servis rutin XMAX di bengkel resmi Yamaha adalah 100  ribu rupiah. Kecuali waktu servis di Yamaha FSS Semarang kalau tidak salah biaya servisnya 135 ribu rupiah karena ditambah fasilitas cuci motor, soft drink, dan makanan ringan yang jadi satu paket. Ada 3 bengkel resmi Yamaha yang sering jadi tempat servis Yamaha XMAX ku ini yaitu Yamaha Donny’s Motor Salatiga, Yamaha Anugerah Jaya Seturan, dan Yamaha FSS Semarang. Tergantung mood dan kebutuhan, mau servis dimana. Aku belum pernah servis di tempat non resmi Yamaha. Toh masih bisa mengakomodir kebutuhan servis Yamaha XMAX dan di 3 tempat tersebut spare part untuk XMAX lumayan lengkap dan ready stok. Memang si, ada beberapa bengkel non resmi yang fokus melayani servis dan oprek motor-motor maxi scooter nya Yamaha & Honda, tapi biasanya malah antriannya cukup banyak.  



4. Penggantian Spare Part

Untuk ketersedian spare part selama tinggal di Jawa Tengah dan Jogja si gak ada masalah, rata-rata bengkel Yamaha R Shop yang cukup besar di kota-kota besar di pulau Jawa menyediakan spare part XMAX ini terutama di 3 tempat servis yang aku sebutkan tadi. Kalau yang tidak ready, bisa indent gak lama atau beli online. Katanya di luar Jawa juga, daerah dengan basis pengguna MAXI Yamaha dan komunitas XMAX nya yang lumayan banyak, spare part nya tidak terlalu sulit mencarinya. Sampai dengan hampir 32 ribu kilometer atau tiga tahun ini, ada beberapa part rutin yang memiliki daur hidup yang sudah aku ganti misalnya filter CVT rutin seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, V-belt yang diganti di 20 ribuan km, busi di 12 ribuan km dan 27 ribuan km, kampas rem depan di 10 ribu km dan 27 ribuan km, kampas rem belakang di 15 ribu dan 30 ribuan km, ACCU masih belum ganti sampai saat ini. Kemudian batre remote nya setiap setahun sekali aku ganti, jadi gak nunggu abis baru ganti. Lagi pula harga batre nya sangat terjangkau. Ban belakang aku ganti di bulan ke 10 dengan Pirelli Diablo Rosso Scooter dan masih dipakai sampe sekarang karena ban Dunlop Smart Scooter bawaan nya robek kecil waktu aku riding ke Jogja dan sudah gak bisa ditambal. Aku beli yang ukurannya naik satu tingkat lebih lebar dari ban bawaannya, supaya terlihat lebih pas dengan ukuran pantat XMAX yang semok ini. Meski motor jadi sedikit lebih berat. 



Untungnya waktu sampe Jogja deket dengan bengkel spare part dan modifikasi yang cukup lengkap dan dikenal di daerah deket Gamping. Jadi ban yang sobek ditutup pake potongan kain dan tisu yang padat sambil di lem alteco, lalu dipompa manual. Meski ada angin yang keluar, yang penting masih bisa sampe toko tersebut. Lalu langsung beli ban baru belakang, namun depannya masih belum aku ganti. Ban depan nya baru aku ganti di 19 ribu km karena udah makin gak nyaman meski sebenernya masih tebel. Aku ganti juga dengan ban Pirelli diablo rosso scooter ukuran yang sama dengan standarnya. Begitu depan belakang ganti ke ban ini semua, motor menjadi semakin stabil, mudah bermanuver, dan terasa lebih nempel di aspal. Harganya memang lebih mahal dari standarnya, tapi jauh lebih nyaman. Untuk motor dengan kondisi standar mungkin ban ini yang menjadi penggatian part dengan biaya paling tinggi yang pernah aku keluarkan untuk XMAX selama 3 tahun ini. Yang lebih mahal lagi ya aksesoris resminya. Hahaha


5. Modifikasi dan Aksesoris XMAX

Aku sudah cukup puas dengan kondisi dan performa XMAX yang aku gunakan dan bisa menyesuaikan hal-hal di luar ekspektasi penggunaan motor 250 cc. Modifikasi yang aku lakukan mungkin di tahun kedua dimana mencoba otak atik dikit settingan dan part di sektor CVT agar tarikan bawahnya bisa lebih enteng dan narik lagi. Karena akselerasi XMAX ini terlalu smooth di putaran bawah, lemot banget si gak, cuma kadang tangan pengen main gas enteng di awal akselerasi. Meskipun cukup berhasil, dimana akselerasi awal motor jadi makin galak, namun berimbas pada top speed yang berkurang, konsumsi BBM yang jadi sedikit lebih boros, dan putaran atas sedikit lebih lambat. Yang awalnya bisa sampai top speed 140 kmpj, jadi hanya 125 kmpj. Setelah pemakaian setahun kemudian terasa sama saja, akhirnya aku kembali ke roller standar pabrik sampe sekarang. Top speed motor XMAX ku sekarang cuma sampe 135 kmpj, itu pun jarang sekali riding sampe speed sgitu, kecuali di jalan raya  dengan trek lurus panjang dan kondisi lagi sepi. Paling sering aku coba gas pol di jalan raya antara kartosuro – boyolali pas lewat malam hari dan terakhir mungkin waktu riding di jalan raya dari Mataram ke Praya. 


Kemudian seperti yang aku sebutkan sebelumnya, yaitu ganti ukuran ban belakang ke satu tingkat yang lebih lebar. Efeknya motor jadi sedikit lebih berat, tapi ketika agak miring-miring dikit di jalan berliku jadi lebih pede. Selain itu mungkin hanya penyesuaian yang bisa dimaksimalkan dari bawaan pabrik seperti lampu depan agak diturunin dikit sorotnya karena bawaannya terlihat agak tegak, kasian kalo papasan sama orang yang matanya sensitif lampu. Dan juga posisi stang aku buat satu tingkat lebih mundur karena memang ada fiturnya untuk itu. Selain itu shock belakang juga aku atur menyesuaikan dengan berat badan ku. 


Untuk aksesoris XMAX yang aku pasang disini belum terlalu banyak. Yang paling terlihat mungkin adalah rear carrier original XMAX yang berfungsi sebagai behel pegangan dan juga sebagai bracket top box. Rear carrier ini cukup besar, bahannya kuat, tidak mudah tergores, dan menambah berat motor, tapi motor jadi terasa lebih “Anteb” aja sejak dipasang rear carrier ini. Kemudian  aku tambahi dengan  top box dari Shad yaitu SH40 Trial (ulasannya bisa cek di link ini) yang sangat berfungsi ketika bawa barang banyak. Lalu aku beli hugger kolong ban belakang dan lampu mata kucing atau reflector di bagian belakang kanan dan kiri biar mirip dengan XMAX versi eropa. Kemudian bordes atas atau pijakan kaki atas juga aku ganti dengan aksesoris original XMAX, sedangkan yang bawah aku biarkan standar karena lebih suka dengan bawaan pabrik yang bahannya lebih keset untuk pijakan. 


Aku juga beli cover CVT bawah, stang, dan cover knalpot yang ala-ala carbon murah biar lebih keliatan ada motif yang masih masuk dengan warna body motor nya dikit. Kemudian jalu stang nya, setelah satu tahun aku ganti karena bawaan pabriknya banyak goresan dan berkarat. Pada bagian bawah knalpot juga aku pasangi jalu knalpot yang bermanfaat banget jadi penahan motor waktu motor ambruk ke kanan dan gak ngenain body motor belakang. Pada cover speedometernya aku ganti dengan yang warna silver bawaan original XMAX silver. Dah paling itu aja aksesoris dan modifikasinya. Bukan modif ala-ala sultan hedon. Pengen ganti jok comfort versi Eropa, tapi sayang yang bawaannya masih bagus dan masih enak, dijual juga siapa yang mau beli. Hehehe. 

6. Konsumsi BBM

Sebenarnya menurutku produk di segmen XMAX ini, keputusan untuk membeli motor ini bukan soal konsumsi BBM nya. Ketika orang membeli kendaraan ya dia tau dan paham harus mengeluarkan biaya untuk BBM dan perawatan kendaraan. Tapi ya rata-rata pada pengen tau bagaimana irit atau borosnya. Dari pengalaman menggunakan XMAX sampai saat ini rata-rata konsumsi BBM nya bervariasi, tinggal cara kita bawa kendaraan gimana, kondisi jalannya gimana, kondisi motornya gimana, beban yang dibawa seberapa, dan lain-lain. Aku gak punya alat ukur nya, hanya menggunakan data info konsumsi BBM yang tertera di speedometer sebagai salah satu fitur XMAX yang aku tidak tahu seberapa tingkat keakuratannya. Dari data disitu, waktu awal beli bisa sampe 38-39 km/liter. Setelah beberapa tahun, ya agak berubah. Kalau kondisi dalam kota yang sering stop & go paling dapetnya 33-34 km/liter. Waktu touring agak jauh bukan ke daerah kota, rata-rata di 37-38 km/liter. Tapi paling sering rata-rata waktu aku gunakan ada di 35-36 km/liter. Aku dari awal selalu pakai BBM jenis Pertamax dan belum pernah coba yang lain.  


7. Yang Tidak Disukai dari XMAX

Sepada motor ini cukup menarik perhatian di jalanan Indonesia. Aku bukan tipikal orang yang suka menarik perhatian, jadi agak risih. Namun ya memang harus terbiasa, karena aku beli ini lebih ke alasan fungsi.  Di setahun pertama sejak beli XMAX ini, sering banget ditanyain orang, terutama tukang parkir, pegawai pom bensin, atau bapak-bapak waktu berhenti di lampu merah. Mas ini NMAX yang baru ya. Mas modif NMAX jadi kayak gini abis berapa. Mas ini motor apa ya. Ya pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Tapi sekarang udah jarang. Lalu, suara mesin dan knalpotnya kayaknya gak cocok aja sama desain motornya. Kurang ngebass dikit. Tapi kalo dah jalan, suaranya agak mendingan dan terbiasa dengan karakter suara mesinnya. 

Selain itu, suspensi depan nya menurutku semakin lama jadi agak keras. Kalau pas dipake di aspal yang mulus memang nyaman dan stabil, namun tahu sendiri jalan di Indonesia seperti apa, butuh membiasakan diri dengan kerasnya suspensi depan. Tapi kalau pas jalan bawa top box dan bagasi yang isinya full agak mendingan lah. Solusinya ya shock depan nya di servis dan ganti oli shocknya ketika sudah saatnya. Lalu, gak ada parking brake locknya. Menurutku motor seberat ini harusnya sudah dipasangi parking brake lock. Kerasa banget butuhnya kalau kena jalanan rame dan agak macet di daerah tanjakan. Kadang juga ya harus pinter-pinter ngatur posisi motor kalau parkir di area yang agak miring. Mungkin buat mangkas biaya produksi dan menekan harga jualnya biar lebih bersaing dari merek sebelah. Setauku hanya XMAX versi 400 cc yang dijual di Eropa yang memiliki fitur ini.



Kalau musim hujan, mud flap nya yang kecil gak bisa nutupi dari cipratan air dan lumpur dari roda belakang ke arah mesin, jadi gampang banget kotor dan risih liatnya. Apalagi area tersebut bagian mesin utama. Jadi ya solusinya harus pake hugger kolong. Kemudian tuas rem belakangnya cukup berat, padahal yang depan enteng banget. Aku bingung kenapa di desain seperti itu. Untuk pengereman dengan gaya berkendara ku sebenernya cukup. Hanya saja mungkin buat yang sering gas poll dan ngerem mendadak, kayaknya kerasa kurang responsif. Kalau pas turunan tajam dan curam harus pinter-pinter juga main tuas rem nya biar gak nggloyor apalagi motornya lumayan berat. Jadi ya membiasakan diri menjadi solusinya. Kalau punya budget lebih biasanya para rekan-rekan pengguna XMAX memodifikasi sistem pengereman nya. Tapi kalau menurutku si cukup dan aku dah terbiasa menggunakannya. 


8. Yang Aku Suka dari XMAX

Pemandangan speedometer dari posisi riding adalah salah satu hal yang paling aku suka dari XMAX. Simple dan gagah, masih ada unsur analognya tapi ya kembali ke selera. Desain nya mungkin juga gw banget. Bukan desain yang disukai semua orang, tapi cukup mewakili selera ku dan terlihat timeless, apalagi bagian depannya. Waktu udah jalan, nyaman banget, jok nya dan posisi riding cukup nyaman apalagi kalau diganti jok comfort model eropa. Jadi pengen upgrade. Hahaha. Yang aku suka juga adalah jadi punya temen-temen dan kenalan baru sesama pengguna MAXI Yamaha dan juga pengguna motor lain yang suka motoran yang mememuhi aturan berlalu lintas dan tidak mengganggu hak dan membahayakan pengguna jalan yang lain. 


Hal lain yang aku suka adalah adanya aplikasi My Yamaha dan catalog sparepart online. Ya sebenernya motor Yamaha yang lain juga bisa. Tapi karena baru kali ini punya motor Yamaha, jadi kerasa banget perlakuannya daripada merek sebelah. Kita jadi tau history servis dan ganti spare part yang sudah dilakukan di motor Yamaha yang kita gunakan. Jadi kalau ada oknum bengkel yang bilang harus ganti spare part ini atau itu padahal sebenernya belum diperlukan jadi kita bisa tahu dari history data tersebut. Katalog spare part online nya juga jadi patokan harga batas atas kalau kita beli sparepart original Yamaha. Kalau ada bengkel resmi yang jual lebih dari itu, bisa dilaporkan ke pihak Yamaha dan katanya si kita bisa klaim biaya selisih harganya kalau mau repot. Dari data ini juga sering dimanfaatkan pihak Yamaha atau bengkel resminya untuk mengingatkan kapan harus servis, promo tertentu, maupun kadang pelayanan tertentu. Lumayan sering dapat door prize, diskon servis atau part, dan prioritas pengerjaan servis motor. 

Hal yang aku suka yang lain lagi ya itu tadi, memenuhi kebutuhan fungsi yang aku sebutkan di atas dan memenuhi alasan-alasan yang akhirnya pilih motor ini seperti yang sudah aku ceritakan di blog post ku 3 tahun yang lalu. (bisa cek disini). Jadi kalau ditanya nyesel gak beli XMAX? yaa gak nyesel, udah banyak dapat manfaatnya. Alhamdulillah. Apakah bakal dijual? Kalau bisa jangan, motor pertama atas nama sendiri, cash, dan tabungan sendiri, masih nyaman dipake lagi. Kalau kata beberapa temen si latihan punya motor bongsor, biar nanti kalau punya moge gak kaget. Bismillah semoga deh ada rejeki dan berkah biar mampu punya dan nanti nulis post Pengalaman 3 tahun pake R1250 GS RRRRR atau X-ADV 750, cukup lah buat ke minimarket. Amin. Hihihi. 



You Might Also Like

0 comments