Pengalaman Sebulan Pertama Menggunakan XMAX 250

Sunday, October 21, 2018

Setelah sekitar sebulan mulai mengendarai Yamaha XMAX 250 versi 2018, saatnya untuk servis dan ganti oli pertama sesuai dengan petunjuk buku servis dan manual book sepeda motor Yamaha ini. Servis pertama dilakukan dengan melihat mana yang tercapai terlebih dahulu 1000 km atau 30 hari setelah motor di beli. Sedangkan XMAX ku baru mencapai 700an km selama sekitar 27 hari. Jadi akhirnya aku bawa ke bengkel resmi Yamaha di Honggowongso, dealer tempat aku indent XMAX, untuk memanfaatkan servis gratis pertama dan ganti oli mesin pertama. Sampai sana langsung didahulukan, padahal seharusnya ikut nomor antrian. Gak tau kenapa. Dari keterangan di buku servis, oli mesin gratis hanya di dapat pada servis pertama. Sedangkan servis gratis di dapat hingga 15.000 km untuk sekitar 4 kali servis yaitu pada 1000 km, 5000 km, 10.000 km, dan 15.000 km. Oli standar yang digunakan untuk XMAX sama dengan yang digunakan Maxi Scooter Yamaha lainnya di Indonesia, yaitu Yamalube Super Matic, namun khusus untuk XMAX memerlukan 2 botol oli.



Aku menggunakan XMAX ini kebanyakan untuk harian dari rumah ke kantor yang jaraknya sekitar 5-6 km. Sedangkan waktu weekend biasanya aku pakai jalan ke sekitaran Solo Raya, Jogja, maupun sekitaran Semarang, dan Magelang. Paling jauh, baru aku pake PP dari Salatiga-Magetan. Joknya yang empuk dan posisi riding yang nyaman, gak bikin pinggang cepet pegel. Kadang bawaannya kalo weekend sayang banget kalo gak dipake jalan jauh sekalian. Untuk konsumsi BBM nya, dengan motor masih kondisi standar dari informasi aku dapet dari panel info di dashboard, paling irit di posisi sekitar 38 km/liter dan paling boros sekitar 33 km/liter. Katanya untuk kategori motor 250 cc ini, hal ini termasuk irit. Untuk keamanan, motor ini sudah dibekali smart key system atau keyless dengan model immobilizer. Waktu beli cuma dapat satu unit remote keylessnya. Keyless nya terlihat ada tulisannya buatan mitsubishi, dan ada baterenya kayak batere CMOS PC, yang direkomendasikan setiap satu tahun diganti baterenya buat jaga-jaga. Di remote ini juga berfungsi untuk mengaktifkan answer back system yang memudahkan kalau kita cari motor ini di area parkiran yang luas, seperti di mall atau lapangan misalnya. Tapi kalo aku lebih sering aku pake buat ngusir secara halus orang-orang yang lagi ngobrol atau nongkringin di sekitar motor ini sambil komentarin motor ini di parkiran... hehehe.


Aku bukan pengguna sepeda motor yang suka ngebut, rata-rata aku pakai di speed 60-80 kmpj. Bahkan kadang kurang dari itu. Apalagi kalo lewati daerah dengan jalan yang mulus dan pemandangan yang bagus, kadang malah riding dengan lambat dan menikmati suasana atau udara segar. Ngebut cuma sesekali kalo kondisi lagi sepi atau track panjang. Top speed motor ini belum pernah aku pakai sampai gas poll, baru sampai 120 kmpj itu pun baru sekali dan sebentar, karena di depan dah ada truk jejer yang berjalan. Tarikan gas motor ini sangat halus naiknya, dan gak terlalu kerasa. Tau-tau udah sampai 80-100 kmpj, itu pun karena angin yang mulai kerasa karena motor ini memang tidak terlalu aerodinamis. Motor pun gak terlalu kerasa getarnya. Dan kalo digas mendadak gak terlalu menghentak, cukup halus. Beda dengan NMAX yang dari rpm bawah sampai atasnya gas nya terasa ngejambak, tapi XMAX ini masih terbilang halus dan baru kerasa dari rpm tengah sampai atas, itu pun motornya gak terlalu kerasa getarannya di stang. Padahal mesin nya lebih besar dari NMAX. Kalau di lampu merah, kemudian lampu hijau pasti gas dikit aja tau-tau motor yang di belakangnya udah keliatan jauh banget kalo liat di spion.


Minggu pertama mulai menaiki Yamaha XMAX ini ada beberapa penyesuaian yang harus aku lakukan. Seperti misalnya soal bawa remote motor di dompet atau tas kecil, karena gak kantongin kunci lagi. Lalu posisi standar samping yang kadang gak pas nariknya karena belum familiar dengan lokasinya di kaki. Baru setelah 2 minggu mulai bisa menarik standar samping tanpa harus melihat atau meraba posisi standar sampingnya. Kemudian jinjit, ya jinjit kaki. Tinggi badan ku sekitar 171 cm dengan berat 80 kg an. Meski gak jinjit balet, tapi posisi kaki tetap jinjit ketika motor berhenti. Namun masih aman apalagi kalo pakai sepatu. Cuma kalo pas pakek sandal jepit agak kurang nyaman. Sebenarnya joknya gak terlalu tinggi, cuma memang cukup lebar sehingga posisi kaki agak melebar. Pengen ganti jok, tapi menurutku jok bawaan XMAX versi Indonesia ini sangatlah empuk dan nyaman, jadi sayang kalo diganti. Aku yang tadinya biasanya kalo naik motor jarak jauh cuma pakai sandal selop, sekarang aku jadi lebih sering pake sepatu terus biar lebih aman dan nyaman.


Lalu aku juga belum berani ngeboncengin rekan yang ukuran dan berat badan nya lebih besar dariku. Karena takut gak bisa ngejaga keseimbangan waktu di lampu merah. Terutama lampu merah yang berada ditanjakan atau kondisi macet parah. Aku baru mulai terbiasa setelah sebulan jalan, dengan mencoba memberi tumpangan ke rekan kerja ku dari yang kurus sampai yang lebih gemuk dari ku. Selain itu, mencari tempat parkir di mall dan tempat keramaian menjadi tantangan tersendiri. Jadi males dateng ke mall yang tukang parkirnya suka mepetin sepeda motor. Jadi cari mall yang parkirannya luas dan syukur mall yang ada parkiran motor khusus 250cc ke atas, dan di Jawa Tengah memang belum banyak yang punya parkiran khusus ini. Tapi aku yakin bukan cuma pengguna XMAX yang mengalami ini, pengguna motor 250cc ke atas yang make buat harian mungkin juga mengalami kesulitan cari tempat parkir ini. 


Panel dan informasi dari speedometer motor ini menjadi pemandangan yang aku suka ketika naik sepeda motor ini. Informasi di panel ini cukup lengkap dan sangat membantu. Fitur traction control pada motor ini sangat berguna ketika berjalan di jalan yang tidak rata. Cukup terasa bedanya ketika traction control ini dimatikan. Jadi untuk safety mending traction control ini selalu dalam posisi on. Pada musim hujan atau melawati jalan basah rem ABS dual channel-nya dan traction control ini juga sangat membantu. Apalagi ABS nya, kalau dah rem mendadak. Gak pernah ada slip lagi seperti yang pernah hampir ku alami waktu pakai vario. Aku pernah dua kali hampir terpelanting di jalanan aspal yang licin waktu hujan ketika ngerem mendadak waktu pake vario. Meskipun menurutku rem motor ini sebenarnya gak terlalu pakem, atau memang fitur ABS memang cara kerjanya seperti itu, sehingga rem jadi seperti kurang pakem. Tapi menurutku masih cukup dan masih bisa mengakomodir jika riding sendiri atau berdua tanpa banyak barang bawaan atau pakai tambahan box motor. Rem depannya juga enteng, bahkan ditarik pake telunjuk juga bisa. Cuma untuk rem belakangnya kadang butuh tenaga ekstra waktu narik tuas remnya. Aku masih belum paham kenapa dibuat seperti ini. Mungkin ada yang lebih paham? 



Untuk kenyamanan ridingnya ketika motor ini sudah berjalan tidak diragukan lagi. Jok e empuk coy dan desain yang menyesuaikan kenyamanan berkendara. Suspensi belakangnya menurutku sudah cukup nyaman. Tinggal di setting sesuai kebutuhan dan berat badan. Hanya saja menurutku malah suspensi bagian depan yang agak keras dan mulai terasa bikin pegel pergelangan tangan jika melewati jalan yang banyak gak rata nya. Kalau di aspal yang mulus dan bergelombang dikit, malah justru kerasa kenapa settingan suspensi depannya seperti ini. Sepertinya suspensi depan ini memang diperuntukan jalan-jalan mulus di Eropa. (mungkin ya). Karena memang kita ketahui bersama, Yamaha XMAX ini memang awalnya diperuntukan untuk market di Eropa, sehingga desain dan settingan motor ini kebanyakan masih mengambil insight dari market nya di Eropa. Di Eropa ada 3 versi Yamaha XMAX, yaitu versi 125cc, 300cc, dan 400cc. Sedangkan di Asia rata-rata yang dipasarkan adalah versi 300cc dan 250cc. Tapi karena sering dipake, lama-lama ya terbiasa dan gak pegel. Jadi nyaman tidaknya motor ini adalah bagaimana kita beradaptasi dengan motor ini dan menyesuaikan motor sesuai keinginan kita. 


Awalnya agak takut gampang lecet karena motor ini di dominisi warna hitam doff. Tapi ternyata cat doff ini lebih gambang waktu di lap. Cuma kalo udah lecet agak dalem emang keliatan banget. Untuk urusan spare part, sejauh ini dari tanya-tanya dealer, part sepeda motor ini juga cukup mudah mendapatkannya. Di bengkel resmi Yamaha dari dealer-dealer yang cukup besar rata-rata sudah ready stok, karena motor ini sudah dipasarkan lebih dari satu tahun. Harga spare partnya pun masih dibilang cukup terjangkau meski ada juga yang cukup mahal seperti aksesoris originalnya. Namun produk after marketnya pun mulai cukup banyak, jadi ada opsi lain yang bisa menjadi pilihan bagi penggunanya. Komunitas XMAX pun sudah cukup banyak bertebaran di Indonesia. Jadi mudah dalam berinteraksi atau ingin mendapat info seputar aksesoris XMAX, perawatannya, modifikasinya, maupun touring bersama bersama “Si Kebo Nyaman” ini. 


Satu hal yang bikin agak risih sebenarnya adalah karena motor ini cukup menarik perhatian di jalan atau di parkiran. Tapi ya itu resiko si. Karena aku bukan tipikal orang yang suka menarik perhatian sebenernya. Sering ditanyain tukang parkir, mas ini motor apa ya. Atau mas ini NMAX yang baru ya, dan aku jawab iya aja, males jelasin macem-macem. Atau liat dari jauh waktu balik ke parkiran, motor lagi dikomentarin beberapa orang sambil berdiri deket motor. Bahkan dicolek orang, sesama pengendara motor waktu di lampu merah juga udah pernah. Meski cuma nanya ini motor apa ya mas. Ya mungkin resiko tinggal di daerah. Tapi sebenernya yang punya XMAX di kota ini sudah cukup banyak, cuma memang jarang yang pake buat harian. 


Yamaha XMAX 250 ini memang sepeda motor yang segmented, yang artinya motor ini memang dibuat untuk target market dan konsumen tertentu dan aku yakin mengambil insight atau ide sebagian besar dari rider dan market di Eropa. Meskipun masih ada juga yang disesuaikan dengan regional masing-masing, termasuk di Indonesia. Seperti soal pilihan warna dan kubikasi misalnya. XMAX ini bukan motor untuk semua orang, bukan motor yang mewakili selera semua orang. Tiap produk sepeda motor pasti ada kekurangan dan kelebihannya, tinggal apakah sepeda motor yang kita gunakan atau kita beli sudah mewakili kebutuhan kita, apakah sudah mewakili karakter riding kita, atau apakah sudah sesuai dengan budget kita. Bagi ku yang baru pindah kelas dari motor yang kubikasinya lebih kecil ke yang lebih besar, banyak adaptasi yang memang harus aku sesuaikan. Namun ketika sudah sebulan lebih pemakaian, pasti akan terbiasa dan semakin menguasai serta punya cara atau solusi untuk mengatasi kesulitan yang terjadi. Happy riding gaes. Keep safety. 



You Might Also Like

2 comments

  1. Ulasane dowiii tenin. Blm khatam..wkk. btw sangat informatif..jossss. marakke pengen😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... makasih sudah mampir mas bro ... Kalau ada waktu & rejeki nanti touring kesana deh ... :)

      Delete